You are here

3 Pahlawan Militer di Duren Sawit

3 Pahlawan Militer di Duren Sawit

Jika Anda yang bekerja di kawasan Segitiga Emas dan setiap pagi berangkat ke kantor, maka 3 nama jalan yakni Jalan Jend. Pol. R.S Soekanto, Jalan Kolonel Sugiyono dan Jalan Jendral Basuki Rahmat tidak asing lagi. Tapi, tahukah Anda siapa mereka?

Jalan Jendral Polisi RS Soekanto
Jalan Jendral Polisi RS Soekanto

Jalan Jend. Pol. R.S Soekanto membentang timur ke barat dari pertigaan Pondok Kopi (dekat BKT) hingga pertigaan Raden Inten II (McD Raden Inten II). Ke arah barat kemudian dilanjutkan dengan Jalan Kolonel Sugiyono hingga flyover Pondok Bambu. Selanjutnya hingga terowongan by pass (Jalan Ahmad Yani) nama jalannya adalah Jalan Jendral Basuki Rahmat.

Kapolri Pertama

RS Soekanto, atau lebih lengkapnya Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo adalah Kapolri (Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia) pertama, menjabat selama 14 tahun (1945 – 1959). Selain sebagai nama jalan, nama Soekanto juga diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Polri Soekanto di Kramat Jati.

Beliau diberhentikan oleh Soekarno pada tahun 1959 oleh Presiden Soekarno karena menolak penggabungan keolisian dengan TNI ke dalam ABRI.

Komisaris Jenderal (Pol.) Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (lahir di Bogor, Jawa Barat, 7 Juni 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Agustus 1993 pada umur 85 tahun) adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri; dulu bernama Kepala Djawatan Kepolisian Negara) pertama, menjabat dari 29 September 1945 hingga 14 Desember 1959.

Sang Pahlawan Revolusi

Kolonel Anumerta R. Sugiyono Mangunwiyoto adalah salah satu pahlawan Indonesia yang gugur pada waktu Peristiwa G-30 S PKI. Sebagai salah satu bagian dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR), beliau dipukul hingga tewas oleh PKI. Bersama dengan jasad Brigjen Katamso, mayat Kolonel Sugiyono kemudian dimasukkan ke dalam lubang di kawasan Condongcatur, Sleman, Yogyakarta. Keduanya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta. Atas pengorbanannya tersebut, Pemerintah Indonesia menganugerahkan sebagai salah satu dari Pahlawan Revolusi.

Di lubang tersebut kini telah didirikan Monumen Pahlawan Pancasila di Kompleks Batalyon Infanteri 403 Kentungan, Sleman, Yogyakarta. Di monumen ini juga disajikan relief yang menggambarkan peristiwa penculikan dan pembantaian terhadap dua Pahlawan Revolusi tersebut di pagar bagian luar. Di bagian luar ini pula, pengunjung bisa menyaksikan duplikat sebuah mobil yang digunakan para pemberontak PKI untuk menculik Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono.

Jendral Basuki Rahmat

Beliau adalah salah satu Jenderal Indonesia dan menjadi saksi penandatanganan Supersemar dokumen serah terima kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto. Karier militer beliau cukup cemerlang. Beliau sempat menjabat sebagai Komandan Batalyon di Ngawi (1945-1946), Komandan Batalyon di Ronggolawe (1946-1950), Komandan Resimen ditempatkan di Bojonegoro (1950-1953), Kepala Staf Panglima Tentara dan Teritorium V / Brawijaya (1953-1956) dan Penjabat Panglima Daerah Militer V / Brawijaya (1956). Untuk karier di luar negeri, beliau sempat ditempatkan di Melbourne, AUstralia sebagai Atase Pertahanan di KBRI Indonesia. Dan pada tahun 1959, beliau menjabat sebagai Asisten IV / Logistik Kepala Staf Angkatan Darat Abdul Haris Nasution. AKhirnya pada tahun 1960 menjabat sebagai Kepala Staf KODAM VII Brawijaya, dan menjadi panglima tahun 1962.

Pada masa pemberontakan Gerakan G 30 S PKI, beliau sangat aktif berperan memberantas pemberontakan ini. Hingga pada bulan November tahun 1965, Basuki dipindahkan ke Jakarta dan menjadi anggota staf untuk Soeharto sekarang Panglima Angkatan Darat, mengambil posisi Deputi Bidang Keuangan dan Hubungan Sipil. Basuki juga menjadi aktif sebagai anggota Komite Sosial-Politik (Sospol Panitia), Angkatan Darat politik think-tank yang dibentuk Soeharto setelah ia menjadi Komandan

Pada bulan Februari tahun 1966, dalam Reshuffle Kabinet, Basuki diangkat menjadi Menteri Urusan Veteran.

Pada peristiwa penandatanganan Surat Perintah Sebelas Maret 1966, bersama-sama dengan Jendral Amir Machmud dan Jendral Muhammad Yusuf, beliau menyaksikan Presiden Soekarno menandatangani surat perintah tersebut untuk memberi kuasa kepada Jendral Soeharto untuk mengendalikan suasana genting tersebut.

Bingung mau kirim sama apa? Klik disini untuk mendapatkan ide...
Silahkan share/bagi URL singkat halaman ini: http://drsw.it/VGyCM via sms/twitter/facebook.
Muhamad Syukri
Muhamad Syukri adalah founder/pendiri dari situs web portal DurenSawit.com. Saat ini tinggal di Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur. Misi: menjadikan website DurenSawit.com media komunitas online terbaik di Jakarta. Selain sebagai blogger, Muhamad Syukri juga aktif sebagai PNS di salah satu instansi pemerintah pusat di Jakarta. Untuk menghubungi, bisa mengirim email ke syukri [a] ymail.com atau twit ke @syukri
http://www.durensawit.com/

Tinggalkan Balasan

Top