You are here

Haji Darip dan Heroisme Ulama-ulama Klender

*) Berikut ini adalah opini sepenuh cinta yang ditulis oleh sahabat saya, Muhammad Gunawan, seorang anggota DPRD DKI yang tinggal di salah satu kelurahan yang terdapat di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, bernama Klender. Saya melakukan sedikit pengeditan untuk mengencerkan nuansa orasinya yang terbilang pekat. Selamat mengapresiasi.
 Muhammad Gunawan *)

Saya, sebagaimana manusia lainnya di seluruh dunia, tidak pernah mengajukan proposal pada Sang MahaKuasa tentang dimana saya harus lahir, kapan, dan ingin jadi apa. Begitulah takdir menggariskan saya saat ini berdiam di sebuah daerah dimana semangat kepahlawanan melimpah-ruah. Klender, barangkali nama ini terdengar asing di telinga mayoritas warga Indonesia. Namun sesungguhnya semangat kepahlawanan telah hadir di rumah-rumah warganya jauh sebelum republik ini lahir. Sejak Soekarno belum parau suaranya saat mengguncang daerah ini, memompakan semangat untuk menjadi bangsa yang merdeka. Ya, Soekarno memang memiliki tempat tersendiri dalam kenangan para sesepuh Klender. Kehadiran, orasi karismatik, dan pergulatan semangat kepahlawanannya saat berkolaborasi dengan Kyai Haji Achmad Mursyidi, Kyai Haji Hasbiyallah dan Haji Darip membekas kuat dalam ingatan seakan takkan bakal lekang oleh perjalanan waktu. Memahat nilai-nilai pengorbanan yang ikhlas yang terpatri dalam denyut keseharian hidup warganya.

Haji Darip
Haji Darip (Sumber: Detikcom)

Sejarah panjang kepahlawanan Jakarta mencatat Klender sebagai tempat kelahiran para ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) propinsi DKI Jakarta. Kyai Achmad Mursyidi yang telah disebutkan terdahulu, misalnya, adalah sesepuh warga yang telah lebih dari sepuluh tahun memimpin MUI Jakarta hingga akhir hayat. Lalu ada Kyai Haji Hasbiyallah, yang telah meninggalkan lebih dari empatpuluh pesantren atau sekolah Islam berlabel “Al-Wathoniyah” tersebar di seluruh pelosok Jakarta. Selanjutnya Kyai Haji Munzir Tamam yang memimpin MUI Jakarta selama delapan tahun terakhir ini. Sudut pandang pembangunan manusia menempatkan mereka sebagai Pahlawan Pendidikan sekaligus Pahlawan Umat Islam,khususnya, dan umumnya pahlawan bagi segenap warga Jakarta.

Klender yang pernah ‘dinobatkan’ sebagai kelurahan termiskin di Jakarta Timur beberapa tahun silam dalam konteks batas-batas administratif, bukan substantif, dulunya merupakan kawasan yang membentang antara Penjara Cipinang hingga Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, lanjut ke Utara berbatasan dengan jalan raya Bekasi yang menghubungkan Terminal Pulogadung hingga ke kawasan PIK (Perkampungan Industri Kecil). Sebelah Selatan Klender dulu terhampar di sepanjang garis Kali Malang.

Kemandirian dan kemampuan warganya membuat kawasan ini tumbuh menjadi sentra-sentra ekonomi unggulan yang tidak hanya menambah rona dalam perwajahan Jakarta namun sekaligus pula sumber penghidupan bagi jutaan orang yang berasal dari berbagai daerah. Sebut saja Kawasan Industri Pulogadung, yang tidak sampai setengah kilometer dari Kantor Kelurahan Klender saat ini. Ribuan orang bekerja mengais rezeki di kawasan ini dengan perputaran uang yang mencapai triliunan mancanegara. Sentra mebel yang membentang dari Kali Malang hingga Terminal Pulogadung merupakan kawasan industri mebel terbesar di Indonesia. Keberhasilan semacam itu telah mengubah kawasan Klender menjadi salah satu aset nasional yang penting.

Saya ingat semasa rezim Orde Baru, Presiden Soeharto pernah memperkenalkan kosep Trilogi Pembangunan, yakni pembangunan yang bertumpu pada tiga kekuatan yaitu pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik keamanan dan pemerataan. Miniatur implementasi Trilogi tersebut juga hadir di Kawasan Klender ini. Soal pertumbuhan ekonomi, ada sosok dermawan almarhum Haji Oman di situ yang notabene putra Betawi asli dan sukses sedemikian rupa sebagai saudagar di kawasan Klender hingga sangat layak dinobatkan sebagai Pahlawan Kemandirian Ekonomi Klender. Lalu soal pemerataan yang ditopang oleh kekuatan agama dengan pemerataan akses pendidikan, kita bisa menyebut Kyai Hasbiayallah di sana. Sementara urusan stabilitas keamanan di kawasan ini tak dapat dilepaskan dari kiprah Haji Darip, seorang jawara Betawi Klender yang namanya kini diabadikan sebagai nama jalan di kawasan Klender.

Haji Darip telah memberikan teladan semangat kepahlawanan dalam bentuk perjuangan fisik. Ia mengajarkan sikap untuk tidak takut mati dalam membela kebenaran bukan dalam bentuk orasi atau petuah. Ulama yang memiliki nama lengkap Haji Mohammad Arif itu lahir pada tahun 1886 dan gugur dalam upayanya memerangi pasukan asing yang hendak mencengkramkan kuku penjajahannnya di Klender. Ia mengajarkan kepahlawanan dengan nyawanya sendiri. Ketokohan Haji Darip tidak hanya disegani di wilayah Klender, melainkan juga di wilayah Bekasi dan sekitarnya.

Ingatan saya tentang Haji Darip bersumber dari penuturan para sesepuh kami di Klender. Dr Robi Nurhadi, satu anggota tim penulis sejarah Klender yang meneliti perjuangan Kyai Achmad Mursyidi, memaparkan bahwa Haji Darip merupakan salah satu dari Tiga Serangkai di Klender. Kemampuan fisik Haji Darip yang jauh di atas rata-rata memicu keberaniannya menjadi tokoh Klender pertama yang berani mengangkat senjata berhadapan langsung dengan Tentara Sekutu. Semboyan “mencintai tanah air merupakan bagian dari iman” digunakan oleh Haji Darip untuk membakar semangat ratusan pemuda dari Klender dan sekitarnya. Ia berhasil menghimpun para pemuda dalam Barisan Rakyat (BARA). Komunitas Anak Betawi GRK menyatakan ada brosur dari Angkatan 45 DKI Jakarta tertanggal 17 Agustus 1985 — empat tahun setelah Haji Darip meninggal dunia – yang menyebutkan bahwa beliau telah berjuang bersama Bung Karno. Ia memimpin gerakan bawah tanah, terutama di daerah Cilincing hingga Tanjung Priok. Saat pendudukan Jepang terjadi, Haji Darip yang merasa geram menyaksikan kekejaman pasukan Dai Nippon Jepang menggerakkan masyarakat di Klender dan menghimpun para narapidana di Penjara Cipinang untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang.

Kisah perjuangan Haji Darip adalah kisah nyata. Situs sejarahnya masih bisa dilihat dengan keberadaan rumahnya yang berdekatan dengan stasiun kereta api Klender. Putranya, Haji Uung, menyatakan keyakinannya bahwa ayahandanya melakukan semua itu semata-mata karena sebuah panggilan nurani yang dilakukannya dengan penuh keikhlasan: lillahi ta’ala. Sebuah ungkapan yang menyiratkan keluhuran budi pekerti dan kerendahan hati para pahlawan Klender beserta keluarga mereka. Bagi mereka, tidak jadi soal saat nama ayah mereka (Haji Darip) menghilang dari catatan sejarah setelah perang usai.

Namun warga Klender senantiasa mengingat pesan Bung Karno tentang “Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Penamaan nama jalan Haji Darip di bilangan Klender dan pembangunan Mesjid Al Makmur dekat Pasar Klender yang asalnya adalah sebuah mushola kecil yang didirikan oleh Haji Darip semasa hidupnya menjadi bukti keluhuran budi pekerti warga Klender dalam mengenang jasa para pahlawannya.

Kisah kepahlawanan di Klender, khususnya yang diperlihatkan oleh Haji Darip, telah membuka mata kita tentang keikhlasan yang menjadi ciri seorang pahlawan. Kepahlawanan akan sangat sulit ditemukan dalam diri individu yang menjadikan uang sebagai prioritas utama dalam hidupnya karena pahlawan lahir dari keberanian berkorban dengan segenap keikhlasan. Selamat Hari Pahlawan, bangsaku ….

Sumber: Wahyuni Susilowati – Kompasiana.com

Bingung mau kirim sama apa? Klik disini untuk mendapatkan ide...
Silahkan share/bagi URL singkat halaman ini: http://drsw.it/N37aX via sms/twitter/facebook.
Muhamad Syukri
Muhamad Syukri adalah founder/pendiri dari situs web portal DurenSawit.com. Saat ini tinggal di Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur. Misi: menjadikan website DurenSawit.com media komunitas online terbaik di Jakarta. Selain sebagai blogger, Muhamad Syukri juga aktif sebagai PNS di salah satu instansi pemerintah pusat di Jakarta. Untuk menghubungi, bisa mengirim email ke syukri [a] ymail.com atau twit ke @syukri
http://www.durensawit.com/

Tinggalkan Balasan

Top