You are here

Harjulian Telaten Olah Sampah Dapur Jadi Biogas dan Pupuk di Pondok Kopi

Harjulian Telaten Olah Sampah Dapur Jadi Biogas dan Pupuk di Pondok Kopi

Jakarta – Meski sudah lanjut usia, Harjulian Sumardi (79) sesemangat anak muda dalam menjaga lingkungannya. Awalnya, warga kompleks Malaka Country di Pondok Kopi ini pusing lantaran tumpukan sampah di depan kompleksnya membuat antar warga ribut. Namun, setelah putar otak dan bergerak, Harjulian berhasil mengubah sampah itu jadi biogas dan pupuk cair.

“Awalnya, saya itu melihat sampah yang menumpuk di TPS di depan kompleks rumah saya, itu menimbulkan permasalahan bahkan sampai konflik. Terkadang sampah-sampah itu tidak terangkut, dibiarkan selama 1 minggu, menumpuk jadi banyak dan itu mendapat protes dari pemilik ruko yang dipinggir Jalan Raya Pondok Kopi,” ujar Harjulian saat ditemui detikcom di kompleks Malaka Country, Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, Senin (8/12/2014).

Saat hujan, lindi alias air sampah mengalir menimbulkan bau. Begitu hujan berhenti, dari tumpukan sampah-sampah itu akan mengeluarkan belatung yang terkadang bisa menyebar hingga rumah warga. Warga sekitar pun mengeluh.

“Satu sisi saya mengerti keluhan mereka, satu sisi ini ada sampah perumahan, mau dibuang ke mana lagi? Sementara TPS di luar (kompleks Malaka Country) begitu kita buat untuk khusus kompleks kita tetapi dengan adanya lokasi yang di luar warga di luar kompleks juga ikut-ikutan buang sampah,” tutur Harjulian.

Ribetnya permasalahan soal Tempat Penampungan Sementara (TPS) sampah di depan kompleks Malaka Country ini akhirnya membuat hati Harjulian tergerak mencari cara untuk mengurangi sekaligus memanfaatkan sampah.

Harjulian lantas memiliki gagasan yang diutarakannya pada Ketua RW dan seluruh warga agar memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik seperti botol plastik dan kaleng bisa dibuang ke TPS untuk diambil pemulung. Sedangkan sampah organiknya bisa diolah.

“Saya sudah beberapa kali mencari solusi dengan membuatkan kompos tetapi permasalahan sampah tak terselesaikan juga karena konpos bahannya dari dedaunan. Akhirnya saya timbul ide, bagaimana kalau kita buat biogas dari sampah-sampah ini,” celotehnya.

Harjulian lantas berburu ilmu membuat biogas dari kompos dan bertemulah dengan peneliti biogas dari Sumedang. Dia menimba ilmu sang profesor itu dan mulai bergerak mempraktekkannya.

“Akhirnya saya berinisiatif meminta izin untuk ambil sebagian lahan taman penghijauan untuk saya buat digester (kotak pencerna sampah organik) berupa lubang dengan kedalaman 1,2 meter serta panjang dan lebar 4×2 meter. Bagian bawahnya sudah dicor dan saya lapisi dengan fiber agar tidak bocor,” tuturnya.

Di satu bagian kotak itu ada lubang untuk memasukkan sampah-sampah organik macam sisa potongan sayur, tulang ayam dan tulang ikan. Kemudian Harjulian mengisi kotak pencerna sampah itu dengan campuran 2:1 antara air dan kotoran sapi 100 kg.

Kotoran sapi yang didapatkannya dari peternak di Sumedang itu yang dicampur air bisa menghasilkan bakteri pemakan amoniak. Bakteri-bakteri itulah yang akan mencerna sampah organik dan menghasilkan gas metana. Bakteri-bakteri itu bisa bertahan selama 10 tahun karena dikasih makan sampah terus menerus.

“Ini saya buat dengan alat-alat yang didaur ulang alias barang-barang bekas. Atap kotak digester ini saya bikin dari tandon air yang saya belah, saya rekatkan dengan fiber agar kedap udara. Digester ini mampu menampung 100 kg sampah organik,” kata dia.

Pro kontra warga tentu saja ada. Mulai dari bau busuk yang menyengat hingga masalah dana. Akhirnya, dia bekerja sama dengan PLN yang mendukungnya mendanai pengolahan kompos menjadi biogas ini.

Harjulian yang menjadi pengurus RW bidang kebersihan lingkungan itu sampai menyediakan 2 ember per rumah untuk memilah sampah. Sehari-dua hari warga rajin memilah, lama-lama tidak telaten dan malas. Akhirnya, Harjulian merekrut pemilah sampah.

Sampah-sampah organik yang dikumpulkan dari warga itu dimasukkannya ke digester selama 2 hari hingga menghasilkan gas metana. Gas metana itu ditampungnya dalam tabung plastik besar dengan panjang 5 meter dengan diameter 1 meter. Selain itu ada produk sampingan berupa pupuk cair yang 1 liternya di pasaran dihargai Rp 30 ribu.

Namun karena produksi metananya masih terbatas, maka belum ada warga yang mau memanfaatkan gas metana. Alasannya, ribet karena harus memiliki pipa-pipa untuk menyalurkannya ke rumah warga, selain itu dikhawatirkan pipa-pipa itu nanti akan menimbulkan kesan kumuh. Satu masalah lagi, tekanan gas metana yang kecil belum memungkinkan untuk disalurkan ke rumah-rumah.

Maka, jadilah Harjulian sebagai inisiator menjadikan dirinya proyek percontohan. Dari hasil mengolah kompos menjadi biogas ini, gas metana yang ditampungnya di tabung plastik itu disambungkan manual dengan selang kompor gas.

“Hasilnya bisa untuk masak 5 hari,” tuturnya.

Dirinya berencana mencoba memasukkan biogas metana itu ke dalam genset kecil yang sudah dimodifikasi. Hasilnya, berhasil. Genset bisa menyala menghasilkan listrik.

Impian untuk TPA Bantar Gebang

Dari hasil proyek percontohan kecil-kecilan yang dilakukan Harjulian, dia optimis Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang bisa memanfaatkan sumber daya sampah untuk menghasilkan listrik.

“Saya memikirkan bagaimana dengan lahan yang luas dan tonase sampah yang tinggi, itu dapat menghasilkan listrik untuk 1 kelurahan. Coba diluhat di Bantar Gebang, sampah numpuk dibiarkan begitu saja. Coba seandainya pemrintah berniat buat daur ulang sampah jadi biogas metana. Kita cukup mempekerjakan pemulung-pemulung yang ada di sana saja. Dengan mengelola Bantar Gebang menjadi pabrik biogas sampah, memilah sampah organik dan anorganik bisa jadi penghasulan mereka juga. Ini bukan teknologi baru, ini teknologi lama,” harapnya.

Sumber: Detikcom

Bingung mau kirim sama apa? Klik disini untuk mendapatkan ide...
Silahkan share/bagi URL singkat halaman ini: http://drsw.it/n0l6L via sms/twitter/facebook.
Redaksi Duren Sawit
Tim Redaksi DurenSawit.com
http://www.durensawit.com/

Tinggalkan Balasan

Top