You are here

19 Pasang Kembar Dikumpulkan di Posbindu Malaka Jaya

19 Pasang Kembar Dikumpulkan di Posbindu Malaka Jaya

Awalnya seorang warga, anak seorang ibu kembar penasaran mengapa di RW03 Malaka Jaya , Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur banyak anak dan orang kembar.

Akhirnya atas bantuan Kader Kesehatan setempat Ny Partono, didapat data 12 pasang warga kembar. Setelah didata ulang secara akurat atas perintah Ketua RW 03 Malaka Jaya Andang Subaryono, maka didapati 19 pasang warga kembar dalam satu RW. Mereka pada hari Minggu (14/9) dikumpulkan di Pos Pembinanaan Kesehatan Terpadu (Posbindu) Penyakit Tak Menular (PTM) Malaka Jaya sekaligus diwawancara Trans TV.

Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Duren Sawit, Ahmad Nizar mengungkapkan, warga kembar di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur diperkirakan cukup banyak. Sebab di RW 03 Kelurahan Malaka Jaya saja mencapai 19 pasang. Di Kelurahan Pondok Kopi seorang pegawai kelurahan Ny Kiki Kusumawardani pada 28 April 2014 melahirkan sepasang anak kembar yang diberi nama Alfian Akbar Putra Ardani dan Alika Zhavira Indra Putri. Kelurahan Pondok Kelapa RT007/01 ada anak kembar Ayi dan Ayu (16), begitu pula Kelurahan Pondok Bambu.

Karena itu Ahmad Nizar mengharapkan nanti ada organisasi komunitas orang dan anak kembar tingkat kecamatan Duren Sawit. Sehingga secara periodic berkumpul saling sharing pengalaman yang bermanfaat bagi semua.

“Saya sendiri lahir kembar,” aku Nizar. Tetapi kembarannya bernama Nazir tak sampai besar, umur 3 bulan meninggal. “Makanya kalau saya melihat orang kembar ngiri,” ujarnya. Ngiri di sini positif karena pemikiran selanjutnya ingin memfasilitasi orang orang kembar untuk dapat berkumpul berbagi pengalaman. Obsesi ini akan dilaporkan Camat Duren Sawit Abu Bakar yang pekan lalu sudah mendengar banyaknya warga kembar di wilayahnya.

Pada pelayanan Posbindu PTM Malaka Jaya, Ketua RW 03 Andang Subaryono melaporkan hasil pendataan ulang warga kembar mencapai 19 pasang. Dari yang termuda Fina –Fani umur satu setengah tahun hingga paling tua Pariyah –Pariyem nenek-nenek umur 74 tahun. Namun yang paling banyak kembar masih anak-anak.

“Orang tua yang anaknya kembar harus belanja ekstra bila membelikan pakaian dan mainan,” katanya.

Bidan Emmy Sumarni Suparman secara terpisah mengatakan selama 15 tahun ia praktik bidan sudah 5 kali menolong persalinan bayi kembar. Namun terbatas untuk ibu yang pernah bersalin. “Untuk kelahiran pertama bayi kembar saya anjurkan ke rumah sakit untuk ditolong dokter,” ujarnya. Biasanya di rumah sakit bersalin oleh dokter dianjurkan operasi caecar demi keselamatan ibu dan anaknya.

Mengenai akte kelahiran bayi kembar Kasudin Dukcapil Jaktim H Abdul Haris menegaskan bagi orang tua yang memiliki anak kembar segera mendapatkan akte kelahiran di Kantor Kecamatan asalkan tidak lebih dari 60 hari. Tetapi bila lebih 60 hari, akte kelahiran harus diurus ke Kantor Sudin Dukcapil Jakarta Timur. “Sekarang gratis. Tetapi jangan lupa membawa saksi dua orang,” ujarnya.

Dari pasangan kembar di RW 03 Malaka Jaya menurut Kader Kesehatan RW 03, Siti Sutarmi yang paling banyak di RT 011/03 yaitu Fina-Fani binti Ofang (1,5 tahun), Fatimah H dan Rukhoyah N binti Ferry (3,5), Lina –Leni (37), dan Mariana –Mariati binti Siregar (41). Juga RT 04/03 yaitu Evelin –Elisa (6 tahun), Alya-Kamila (9), Riko-Riky (14) dan Pujo Utomo-Pujo Wibowo (47). Sementara yang paling tua Pariyah-Pariyem (74) warga RT002/03 masing masing memiliki 6 dan 7 orang cucu.

Bingung mau kirim sama apa? Klik disini untuk mendapatkan ide...
Silahkan share/bagi URL singkat halaman ini: http://drsw.it/wRF9Z via sms/twitter/facebook.

Tinggalkan Balasan

Top